Membaca adalah Kunci Perubahan dan Ilmu Pengetahuan

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang Mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS Al ‘Alaq (96):1-5)

Inilah wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw, yang dalam kajian Ibnu Katsir dikatakan sebagai rahmat dan nikmat pertama yang dianugerahkan Allah swt kepada para hamba-Nya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir V/236). Dan inilah pula yang menandai penobatan beliau sebagai Rasulullah, utusan Allah, kepada seluruh umat manusia. Wahyu inilah yang menjadi tonggak perubahan peradaban dunia. Dengan turunnya ayat tersebut maka berubahlah garis sejarah umat manusia. Berubah dari kehidupan jahiliyah nan gelap dalam semua aspek, termasuk di dalamnya kegelapan ilmu pengetahuian, menjadi terang benderang. Sejak saat itu, penduduk bumi hidup dalam keharibaan dan pemeliharaan Allah swt secara langsung. Mereka hidup dengan terus memantau ajarah Allah yang mengatur semua urusan mereka, besar maupun kecil.

Latar Belakang turunnya ayat

Ayat ini turun dilatarbelakangi oleh peristiwa besar. Yang saat Nabi saw berkholwat (menyendiri) untuk kontemplasi dan beribadah di gua Hira’, datanglah malaikan Jibril as menemuinya, lalu mengatakan kepada: “Iqra’ (bacalah)!” Nabi menjawab, “Saya tidak dapat membaca”. Belau lalu direngkuh beberapa kali oleh malaikat Jibril as hingga nafasnya sesak, lalu dilepaskan olehnya seraya disuruhnya membaca sekali lagi: “Bacalah!” Namun, Nabi tetap menjawab “Saya tidak dapat membaca”. Begitulah keadaan berulang sampai tiga kali, sampai akhirnya Jibril mengatakan “Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq… (yakni QS Al ‘Alaq ayat 1-5)

Peristiwa yang mengubah peta dunia

Peristiwa di atas bukan hanya menceritakan turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah saw. Namun lebih dari itu bahwa peristiwa agung tersebut benar-benar telah berhasil merubah peta dunia dan menyelamatkan umat manusia dari berbagai macam zhulumat (kegelapan) menuju Nur Ilahi (cahaya Allah). Dari dzillah (kehinaan) kepada ‘Izzah (kemuliaan), dari dha’f (kelemahan) menuju quwwah (kekuatan), dari firqah (perpecahan) kepada wihdah (persatuan) dan dari jahl (kebodohan) menuju ‘ilm (pengetahuan).

Membaca adalah kunci perubahan dan kunci ilmu pengetahuan

Dari perubahan-perubahan itu ternyata diawali dengan “Iqra” (bacalah). Perintah membaca di sini tentu harus dimaknai bukan sebatas membaca lembaran-lembaran buku, melainkan juga membaca ‘buku’ dunia. Seperti membaca tanda-tanda kebesaran Allah. Membaca diri kita, alam semesta dan lain-lain. Berarti ayat tersebut memerintahakn kita untuk belajar dari mencari ilmu pengetahuan serta menjauhkan diri kita dari kebodohan.

Namun membaca yang mampu membawa kepada perubahan yang positif bagi kehidupan manusia bukanlah sembarang membaca, melainkan membaca ‘dengan menyebut nama Allah Yang Menciptakan’.

Dalam kajian Sayyid Quthb rahimahullah bahwa surat ini adalah surat pertama dari Al Qur’an, maka ia dimulai dengan Bismillah, dengan nama Allah. Dan Rasulullah saw pertama kali melangkah dalam berhubungan dengan Allah dan pertama kali menapaki jalan da’wah dengan Bimillah: “Iqra’ bismika rabbik”. (Lihat Fi Zhilal Al Qur’an VI/3938).
oleh Ust. Ahmad Kusyairi Suhail, MA

Tinggalkan Jawapan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Tukar )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Tukar )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.